SELAMAT DATANG di BLOG LUKMAN CENTER 89

SETIA HINGGA AKHIR DALAM KEYAKINAN

Jumat, 02 September 2011

MEMPERTAHANKAN KEKUASAAN



Menurut Niccolo Di Bernardo Machiavelli, dasar kekuatan Negara adalah HUKUM yang berwibawa dan angkatan bersenjata yang kuat. Idealnya kedua unsur tersebut ada di dalam sebuah Negara. Namun bila situasi tidak memadai maka yang harus dibangun adalah angkatan bersenjata. Hal ini harus diambil karena hukum tidak akan dipatuhi bilamana tidak didukung oleh kekuatan militer.

Negara yang kuat bisa diukur dari kemandiriannya saat menghadapi berbagai ancaman yang datang dan menyelesaikan situasi kritis. Semakin kecil bantuan dari luar maka semakin mandiri dan kuatlah Negara itu. Penguasa yang ingin negaranya kuat dan kekuasaannya bertahan lama harus membangun kekuatan militer atas dasar tentara rakyat. Penguasa yang baik juga harus belajar dari sejarah. Ia harus mengetahui apa yang diperbuat oleh orang-orang besar dalam mengelola kuasaan mereka.

Untuk mengukuhkan kekuasaan, penguasa harus menyusun langkah dan strateginya berdasarkan pada situasi nyata yang sedang dihadapi, dan bukan apa yang seharusnya terjadi.

Ada dua hal yang menyebabkan penguasa kehilangan kekuasaan, pertama karena serbuan pasukan asing dan yang kedua adalah karena kudeta dari rakyat dan bawahannya. Serbuan asing yang didukung kekuatan dari dalam akan lebih mudah merontokkan kekuasaan seorang penguasa.
Untuk mencegah terjadinya kudeta, ada dua langkah yang harus ditempuh. Pertama, penguasa harus bisa mengambil hati semua lapisan rakyat dan bawahannya. Bila hal itu tidak bisa dilakukan, tempuh cara kedua dengan berusaha untuk tidak dibenci oleh kelompok yang paling berpengaruh. Untuk menentukan langkah mana yang paling tepat diterapkan, tergantung pada kondisi nyata yang sedang dihadapi.
Kelompok-kelompok yang hendak menggulingkan kekuasaan selalu mengatas namakan rakyat dalam tindakannya. Maka cara terbaik mengamankan kekuasaan adalah dengan bersahabat dengan rakyat.

Penguasa yang baik menurut Niccolo Di Bernardo Machiavelli harus memadukan watak singa dan rubah. Ia harus sekuat singa dan selicik rubah. Singa disegani karena kekuatannya  namun sering tidak waspada bila menghadapi perangkap, tapi rubah sanggup menghindari perangkap tapi tidak bisa membela diri saat diserang serigala.

Namun jika terpaksa harus memlih karena situasi, maka seorang penguasa lebih baik memilih sifat rubah. Sejarah membuktikan penguasa yang semata-mata mengandalkan kekuatan akan mudah runtuh karena tipu daya dan kelicikan. Sebaliknya, penguasa yang pandai bertipu daya maka peluang untuk menang masih terbuka lebar dan besar *****



Rabu, 31 Agustus 2011

Niccolo Di Bernardo Machiavelli

MENJADI PENGUASA

Konon, nikmatnya menjadi penguasa itu lebih nikmat dari pada saat bersenggama. Entah benar entah salah, namun dari catatan sejarah banyak contoh yang bisa melukiskan dengan jelas bagaimana seseorang berjuang untuk mendapatkan posisi penguasa, bagaimana seorang pemimpin yang mati-matian mempertahankan kekuasaannya. Mereka lupa turun atau tidak mau turun dari tahta kekuasaannya, sehingga tidak sedikit yang mati di tampuk kekuasaan karena dipaksa turun. Bandingkan seberapa banyak orang yang rela mati demi mempertahankan kenikmatan saat bersenggama? Hanya orang bodoh yang akan melakukannya dengah menelan obat kuat dan over dosis kemudian.

Menurut  Niccolo Di Bernardo Machiavelli, (3 May 1469 – 21 June 1527) untuk mendapatkan kekuasaan ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Mulai dari mengandalkan nasib mujur (fortune), mengandalkan kemampuan diri sendiri (senjata) sebagai keutamaan (virtue), melalui cara-cara konstitusional (Pemilihan Umum), dan menggunakan cara licik dan kejam.

Mereka yang mengandalkan nasib mujur biasanya karena faktor kekuatan lain yang menempatkannya sebagai penguasa, mereka ditunjuk oleh sebuah kekuatan yang menempatkannya pada posisi penguasa. Namun penguasa seperti ini sesungguhnya hanyalah penguasa boneka karena akan dikendalikan oleh kekuatan yang menempatkannya sebagai penguasa


Penguasa yang mengandalkan kemampuan diri sendiri berjuang melewati rintangan berat, pertempuran yang menimbulkan korban dan pengorbanan lainnya sebelum bisa menduduki posisi sebagai penguasa. Namun, mereka yang memperolah kekuasaan dengan cara ini akan mudah mempertahankan kekuasaannya. Untuk sukses mereka bisa memadukan nasib mujur dan kekuatan senjata. Bagi mereka, nasib mujur adalah kemampuan memamfaatkan peluang. Sebesar apapun peluang yang datang bila tidak diperjuangkan akan sia-sia. Sebaliknya dengan bekal persenjataan sekuat apapun akan cepat padam bila tidak didahului oleh peluang.

Kemujuran dan kemampuan senjata sama bergunanya bagi seorang calon penguasa. Keduanya dapat meredakan kesulitan yang mungkin timbul saat baru berkuasa. Yang menjadi pembeda adalah ketika ingin mempertahankan kekuasan, penguasa yang semakin tidak mengandalkan nasib mujur akan semakin kuat kedudukannya.

Tiga orang penguasa yang mengandalkan kemampuan sendiri sebelum menjadi raja bisa jadi referensi saat ini adalah Romulus di Roma yang berhasil menghimpun pasukan untuk menguasai Kota Roma. Kemudian Cyrus yang bersusah payah mengobarkan semangat pemberontakan rakyat Persia melawan Kerajaan Medes. Dan Theseus harus menghadapi perang berkepanjangan dan melelahkan sebelum berhasil menyatukan Athena dan menjadi raja di sana. Mereka menjadi penguasa yang dicintai rakyatnya karena membawa kemakmuran bagi kerajaan yang dipimpinnya.

Penguasa yang tidak membekali dirinya dengan kekuatan senjata namun berani mengadakan perubahan akan menuai badai. Hanya “nabi” yang bersenjata lengkap yang berhasil menaklukkan, sedang “nabi” yang berjuang tanpa senjata akan memperoleh kekecewaan dan kematian.

Cara lain yang bisa membawa seseorang meraih posisi penguasa adalah melalui dukungan rakyat, hal ini lazim terjadi di Negara Republik. Cara ini diatur dalam undang-undang sehingga disebut kekuasaan konstitusional. Kesuksesan memperoleh kekuasaan ini diperoleh dengan mengandalkan KELIHAIAN menggalang dukungan masyarakat.

Penguasa bisa memperoleh dukungan dari bangsawan dan rakyat. Karena kedudukan dan kepentingan bangsawan berbeda dengan rakyat maka sebelum mencari dukungan seorang calon penguasa harus mengetahui persis karakter kedua golongan ini. Bahaya terbesar bagi penguasa yang mendapat dukungan rakyat adalah bila kekuasaan yang terbatas mulai mereka gunakan secara mutlak.

Cara lain yang bisa digunakan untuk meraih kekuasaan adalah dengan cara licik dan kejam. Dibeberapa Negara di zaman modern hal ini terjadi melalui kudeta kekuasaan. Bagaimana seseorang mampu mengambil alih kekuasaan dengan cara menjatuhkan penguasa yang sedang berkuasa.*****